Friday, 3 July 2015
When You Love Someone, Just Be Brave To...
Kill your love...
Menyukai dan disukai adalah dua kutub yang saling mempengaruhi ketika keduanya bertemu. Bohong jika seorang laki-laki tidak pernah berharap bisa mencintai seorang wanita bahkan ketika ia masih bocah. Cinta bukan melulu soal usia, cinta adalah bagaimana kamu bisa menaruh harapanmu pada seorang wanita yang mampu merobohkan sikap liarmu haha
why i must kill my heart when someone who called love was coming to me?
Aku hanya ingin orang yang aku cintai bisa tersenyum bahagia
dan Aku terlalu takut jika dia bersamaku
justru akulah yang akan membuatnya bersedih
aku tidak ingin membunuh senyuman dari seorang wanita yang aku kagumi
lebih baik aku membunuh perasaan diri
menguncinya rapat-rapat dan menguburnya jauh di dalam kesunyian
dan melihat senyum itu dari kejauhan
Jangan kira pemikiran ini datang dari remaja tanggung yang galau. Saya sudah melakukan hal itu jauh sebelum saya mengenal apa itu cinta. Emang cinta itu apa? haha
Nanti akan saya ceritakan satu per satu bagaimana saya bisa melakukan hal bodoh itu berkali-kali.
Saat menulis pos ini pun saya sedang dalam tahap memegang kunci dam kotak
apakah saya harus memasukkan perasaan itu lagi ke kotak dan menguburnya dalam-dalam atau kah sebaliknya
Meletakkan kunci dalam kotak dan menghancurkannya
sesungguhnya bagaimana sih rasanya dicintai?
Agoraphobia?
Agoraphobia adalah salah satu jenis phobia yang biasanya dialami oleh seorang introvert. Orang memiliki agoraphobia memiliki kecenderungan takut pada keramaian, baik di lingkungan yang baru dikenal maupun lingkungan yang sudah biasa dijumpai. Efek dari agoraphonia ini bermacam-macam pada setiap orang, misalnya detak jantung semakin cepat, berkeringat dingin, pusing, badan menjadi kaku, dan lain sebagainya.
Saya mungkin bisa dikatakan sebagai salah satu orang yang mengalami phobia ini. Saya paling tidak suka dengan situasi keramaian dimana di sana banyak sekali orang. Satu contoh ketika saya dipaksa ikut ke mall oleh kakak, baru masuk di basement saja saya sudah uring-uringan "Banyak banget orangnya" untuk berjalan saja rasanya sangat berat ditambah efek tekanan batin yang kuat membuat keringat mulai bertebaran meskipun di sana ada banyak AC. Lain di mall,
Mall memang lingkungan yang asing bagi saya, namun bukan berarti saya bisa tenang di lingkungan yang sudah saya kenal. Di sekolah atau bimbel arau bahkan masjid pun saya juga mengalami hal yang sama.
Bukan berarti dengan kondisi ini saya termasuk antisosial. Memang teman saya tidak banyak, namun saya menganggap yang sedikit itu sangat berarti. itulah kenapa ketika lulus SD,SMP, dan SMA saya merasakan begitu kehilangan teman saya. Dan saat itulah saya mulai sadar untuk mulai membuka diri, berdamai dengan lingkungan, dan mencoba berbagai hal baru di dunia luar. Sudah lelah saya dicap sebagai anak kuper oleh orang tua saya.
Saya memutuskan bahwa mulai lulus SMA saya harus bisa melawan diri sendiri.
Friday, 16 November 2012
The Lost Moment
Saya membuat blog ini hanya sekedar sebagai tempat menumpahkan ide-ide Saya. Oke, Saya tahu alasan tersebut terlalu mainstream di kalangan blogger. Lebih dari sekedar menuangkan ide, Saya lebih menempatkan fungsi blog sebagai kotak harta karun.
Masa depan?
Sampai seseorang itu datang, Saya akan tetap mengisi kotak harta karun ini sebanyak-banyaknya
Monday, 21 May 2012
Mahasiswa Berencana
Oke setelah menghabiskan waktu liburan yang panjang rasanya ingin sekali meng Ctrl+z lagi hehe. rencanaku hari ini adalah membeli buku di Ihya' atau Sarana Hidayah(SarHid) maklum sudah lama ingin membeli buku, walaupun tidak tahu harus beli apa, sebelum berangkat tentu saja hal yang kulakukan adalah mengecek persediaan uang di bunker "kayaknya cukup?" pikirku
Hal selanjutnya adalah mencatat pengeluaran di buku jurnal, setelah kubuka .... walah lha ini masih utang segini. perasaan galaupun melanda, Aku dihadapkan pada dua pilihan yang berat antara membayar hutang atau membeli buku, dasarnya aku ini ga terlalu pemikir ya sudah diputuskan untuk menunda pembelian buku
Terkadang aku heran dengan orang-orang(mahasiswa) yang masih bisa jajan sana sini, nonton pilem di XXI atau empire, jalan-jalan ke mall, shoping dan bla bla bla, mungkin mereka kaya tapi apa harus seperti itu? kita ini disini untuk belajar hidup mandiri(mandi sendir). anggaplah kita ini sedang membina rumah tangga sendiri (tentunya tanpa istri), jadi harus bisa mengatur keuangan tiap hari dan mengatur segala kebutuhan sendiri
Masing-masing mahasiswa mempunyai trik tersendiri agar tidak gulung tikar di akhir bulan dan aku pun juga hehe
begini cara mengatur keuangan bulanan ala gue
step 1 "membuat jurnal"
1. buat jurnal umum di selembar kertas A4, tempelkan di dinding kamar
2. Udah tau kan cara mengisi jurnal umum? kalau belum silahkan berguru pada anak akuntansi
3. catat pengeluaran dan pemasukan tiap hari di jurnal tersebut, jangan lupa utangnya juga
step2 "membuat catatan estimasi"
1. catatan ini bisa ditulis di mana saja asalkan kamu bisa dengan mudah membacanya
2. catatan berisi target harian sampai mingguan berkenaan dengan posisi keuangan
3. berhubung Aku masih bekerja serabutan jadi catatan lebih difokuskan pada bagaimana cara menghemat pengeluaran semaksimal mungkin
4. Tulis apa saja yang harus dilakukan
- makan satu hari 3.000 (senin-jum'at, selain itu maksimal 10.000)
- galon air minum satu bulan 5.000
- mencuci pakaian satu minggu 3.000 (jangan pernah ke loundry)
- Interhet satu bulan 50.000
- keperluan kuliah satu bulan 100.000
- listrik satun bulan 25.000
- pulsa satu bulan 10.000
- keperluan mendadak satu bulan 50.000
jadi satu bulan kurang lebih 255.000 untuk estimasi pengeluaran dan sebisa mungkin biaya ini ditekan sisanya ditabung buat bekal masa depan hehe
Selain itu untuk lebih memotivasi agar kita selalu tunduk pada aturan estimasi ini ada baiknya membuat life mapping. tulis aja di papan yang gede di kamar biar selalu ingat, contohnya
1. Tahun pertama fokus pada A
2. Tahun kedua fokus pada B
3. Tahun ketiga wisuda
Begitulah. sekali-kali liburan bolehlah asal tetap ingat pada jurnal, catatan estimasi9 dan life mapping kita ^_^
Monday, 14 May 2012
TANGAN MALAIKAT ITU?
**************************************************************
Bayangan sang waktu yang membawa pekat terus mengintai di setiap hari-hariku yang dingin dan beku. Sepi dan sendiri yang mewarnai hari-hariku membuat jiwa ini merasakan setiap belaian penyakit yang bersarang di tubuhku.
Mencekam….itulah yang kurasakan. Aku sadar bahwa sang waktu tidaklah membawa maut untuk kemudian dipersembahkan kepadaku, ia hanya membawa pekat yang kemudian akan menemani di sepanjang usiaku. Sebagai manusia yang belum mengerti bagaimana caranya untuk ikhlas menerima semuanya, aku hanya mampu membiarkan rasa takut berkeliaran tanpa batas dalam hidupku.
Begitu terasa setiap detik yang kulalui. Bagaimana tidak, jiwa dan raga ini dipaksa bersahabat dengan sepi. Bersahabat dengan sepi dan menjalani aktivitas yang monoton. Hhhmmm…bukan aktivitas sepertinya, yang tepat yakni tak ada aktivitas. Yaaa….itulah duniaku setelah berkenalan dengan Glaukoma. Diam dan sesekali berdiskusi dengan jam dinding yang berdetak seirama helaan nafasku,
Itulah rutinitas baruku . Tembok-tembok usang di kamar miniku serta boneka-boneka Barbie bertampang ayu namun memiliki rambut acak-acakkan pun tak luput menjadi sahabatku dalam sepi. Tak jarang aku menyanyi atau sekedar berdiskusi ringan tentang kehidupan dengan mereka. Sangat baik hati para benda mati itu, dengan setia dan penuh perhatian mereka mendengar nyanyian hatiku.
Senyum keikhlasan mendengarkan setiap cerita yang meluncur dari mulutku terpancar jelas dari mereka. Namun air mata justru meleleh di kedua pipiku tatkala mulut ini selesai menguntai kata demi kata untuk mereka. Tentu saja karena sedih melihat mereka yang tak mampu berkomentar dan menghadiahiku untaian kata indah bernada semangat. Jiwa ini kosong nyaris tak mendapat suntikan motivasi untuk melawan penyakit ini atau pun untuk sekedar mendapat keberanian untuk menghadapi sang waktu.
Setidaknya masih ada tangan yang mengulur padaku saat itu. Tangan malaikat yang menjelma pada sosok anak laki-laki yang selama ini telah mengukuhkan dirinya sebagai belahan jiwaku, kalau boleh aku mengibaratkannya seperti itu.
Yaaa…dia selalu ada dan merelakan tubuhnya bergulat dengan rasa lelah karena harus mengantarku kencan dengan dokter setiap hari rabu. Ia rela hidungnya mencium bau obat di apotek. Ia pun rela menempuh jarak jauh melewati hamparan sawah yang menghampar di sepanjang jalan dan membiarkan kulitnya terbakar teriknya sinar matahari yang nakal menggodanya. Itulah beberapa uluran tangannya padaku. Ribuan kebahagian tentu menari-nari di hatiku tatkala mendapati ada sosok yang masih menggapku ada meskipun kenyataan pahit tentang penyakitku tersaji di hadapannya.
Berjuta kebaikan yang ditunjukan si tangan malaikat membuatku yakin bahwa dialah sosok yang akan menemaniku menghadapi sang waktu dan menyibak pekat yang kelak akan menyelimuti. Akhirnya hati ini terpanggil untuk mengulik isi hatinya dan mencari tahu kesungguhannya…
“Kamu tahu kan apa yang akan terjadi sama aku suatu saat nantii?”tanyaku padanya.
“iya, tahu…”jawabnya singkat dan tenang,.
“Aku bakalan buta permanen. Kamu tahu itu kan?”tanyaku lagi, serius.
“Kamu gak bakalan buta, aku yakin…!!!”jawabnya sedikit lebih serius.
“Aku sadar sama keadaanku dan aku gak mau bikin kamu tersiksa karena harus punya cewek kaya aku. Aku tahu kok kamu gak nyaman kan harus selalu nuntun aku tiap kali kita jalan, makanya aku mau kasih kamu kebebasan untuk milih. Kalo kamu mau cari cewe lain yang sehat dan normal, aku rela…”ucapku dengan mata nanar.
“Kamu ngomong apaan sih…aku gak bakal ninggalin kamu apapun yang terjadi. Percaya deh…!!!”ucapnya meyakinkanku.
“Aku bakalan ngelamar kamu suatu saat nanti,”lanjutnya.
“Kalo aku udah lulus kuliah dan kerja, aku bakalan nikahin kamu terus aku bakal bawa kamu berobat ke dokter yang paling hebat. Kamu pasti sembuh…”sekali lagi ia meyakinkanku.
Lega setelah mendengar pernyataannya. Dia seakan mampu meyakkinkanku untuk merenda masa depan bersama meskipun banyak badai yang menghadang. …
Semakin lama semakin terasa kehadiran sang pekat. Kedua mataku semakin lemah menangkap setiap bentuk benda yang ada di sekelilingku. Tatkala petang merajai bumi pertiwi, jiwa ini gelisah. Jiwa ini seakan mencari-cari cahaya, memanggil-manggil sang fajar untuk segera datang menjemputku. Namun bukannya keceriaan yang didapat tatkala sang fajar menyapa dunia, justru malah tekanan yang didapat. Tekanan yang berasal dari rasa jenuh yang menggunung membuatku tak terkendali. Tak jarang aku berteriak dan menangis, kemudian tertawa…semua itu hadir ketika rasa jenuh menggodaku.
Seiring dengan kondisiku yang memburuk, tangan malaikat itu pun tak lagi membelaiku. Tangan itu tak lagi menggenggam erat jiwaku. Sosok itu hilang terbawa angin yang datang bersamaan dengan tekanan di diriku. Tangan itu tak melambai atau pun menjabat tanganku sebelum beranjak dari kehidupanku dan terbang bersama angin. Pergi begitu saja tanpa pamit. Ia meninggalkanku di sini dalam sebuah dimensi ruang hampa yang kosong. Sepertinya jenuh menghampiri jiwanya yang bebas. Atau mungkin ia mulai menyadari kenyataan yang menimpaku yang ternyata tak semudah yang ia bayangkan. Kehampaan sepertinya mulai ia rasakan. Kehampaan karena tak ada kekasih yang menemaninya menikmati dunia. Aku sadar betul bahwa tak semudah itu menerima kekurangan orang lain. Mungkin mudah jika hanya menerima kekurangan orang lain tapi tak mudah jika yang harus kita beri toleransi itu adalah pacar sendiri. Menerima dengan lapang dada dan berani mengatakan, “wanita yang tak bisa melihat itu adalah kekasihku” tak semudah itu ditunaikan oleh setiap manusia, termasuk olehnya.
Sosok itu terus bersembunyi di balik alasan-alasan yang ia ciptakan. Sebenarnya aku sudah bisa menebak bahwa sikapnya yang tiba-tiba menghindar adalah cerminan dari ketidaksanggupan dia untuk tetap berada di sampingku. Namun aku tak begitu saja mengiyakan sikapnya itu, aku terus memborbardirnya dengan pertanyaan serta sikap yang menunjukkan bahwa aku butuh keberanian dia untuk menjelaskan tentang kepergiannya dari hidupku. Dan demi mendapatkan semua jawaban itu, kulangkahkan kedua kakiku untuk menemuinya. Berdesakan di angkutan umum dengan penglihatan terbatas serta jarak yang membentang tak menyurutkanku . Dan setelah sampai ternyata tidak semudah itu menemuinya. Dia tak mau menemuiku. Sikapnya benaar-benar berbeda dengan beberapa waktu lalu .
Namun setelah didesak ia pun mau menemuiku namun dengan syarat yang ia ajukan. Ia membatasi waktu pertemuan kami.
Dingin….itulah sikap yang ia tunjukkan padaku. Untuk sekedar menanyakan kondisiku pun ia tak melakukannya. Karena tak merasa nyaman dengan sikap dinginnya itu, aku pun langsung meminta jawaban atas sikapnya itu. Dan seperti tersambar petir saat tahu apa yang ia katakan. Tubuhku lunglai, jantungku seakan berhenti berdetak, darahku pun seakan berhenti mengalir. Ia mengatakan hal yang diluar dugaanku. Sama sekali tak terpikir dia akan mengatakan hal yang menyakitkan seperti itu.
Kurang lebih seperti ini percakapanku dengannya….
“Kamu kenapa sih ngehindar terus dari aku? Kamu susah dihubungi….”ucapku namun ia hanya diam.
“Kamu punya cewe lain?”tanyaku.
“Gak…!!!”jawabnya tegas, dan aku percaya. Aku tahu bagaimana dia, dia tak semudah itu melabuhkan hatinya kepada orang lain.
“Terus kenapa?!? Kamu udah capek ya punya cewe kaya aku? Kamu malu ya punya cewe gak bisa lihat kaya aku?”tanyaku lagi, namun ia kembali diam. Ada sebuah kebimbangan di wajahnya.
“Gak usah takut, aku gak bakal marah kok kalo emang kamu udah capek and malu pacaran sama aku. Ngomong aja….gak apa-apa kok. Serius deh aku gak bakalan marah..!!!”lanjutku dengan senyum diakhir kalimatku. Aku memang sedang berusaha menyembunyikan kesedihanku karena aku tahu dia tidak akan mengatakan alasannya jika tahu aku sedang sedih.
“Kok diem sih??!!?? Ngomong donk…!!! Kamu benci sama aku? Kamu mau putus?”ucapku dengan senyum yang selalu menghias wajahku. Aku sengaja menawarkan beberapa option agar ia lebih mudah mengungkapkan alasannya.
“Aku gak pernah benci sama kamu, aku Cuma benci sama penyakit kamu,”jawabnya dengan pandangan tak mengarah padaku.
“Aku gak siap kalo harus punya pasangan yang gak bisa lihat. Kalo kita menikah nanti gimana sama anak kita, siapa yang mau ngurus anak kita?!?”lanjutnya. Disitulah aku merasa langit runtuh menimpaku. Air mataku siap meluncur tapi sekuat tenaga aku tahan.
“Ooohhh…jadi bener ya kamu pengen putus. Gitu donk ngomong yang sejujur-jujurnya. Kebukti kan aku gak marah,”ucapku sambil tetap melempar senyum, menutupi remuknya hati ini.
“Tadi kamu bilang kalo kamu gak benci sama aku melainkan bencinya sama penyakitku. Terus kenapa kamu malah ninggalin aku and bukannya bantuin aku ngelawan penyakitku??!!? Gimana sih si abang ini, hehee…”ucapku sambil melempar canda dan tetap menguatkan tubuh ini agar tidak ambruk.
“Aku harus bantu apa lagi, selama ini aku udah banyak bantu kamu. Selama ini aku selalu nemenin kamu ke dokter, nganter kamu beli obat, Menuhin semua yang kamu butuhin…terus aku harus gimana lagi hah?!?”jawa bnya sekaligus menutup pembicaraan antara kami.
Ternyata tangan malaikat itu palsu….ternyata selama ini menghitung setiap kebaikan yang ia berikan padaku. Dan ketika dirasanya aku tak mampu membayar, ia berpaking dariku. Tak bisa menyalahakan dia atas semua ini. Sudah menjadi haknya untuk menentukan pilihan. Dia meninggalkanku hanya karena penyakit ini, memang tak adil untukku. Namun jika aku menahannya untuk tetap berada di sisiku, justru itu tak adil untuknya. Bagaimana pun juga dia bebas memilih dengan siapa ia akan melewati hari-hari. Sekali lagi aku katakana, tak mudah menuntun seorang kekasih di setiap kencan, tak mudah untuk selalu mengambilkan botol saus dan menumpahkannya dimangkuk bakso kekasih kita. Ternyata dia bukanlah sosok yang akan menjadi tongkatku.
Tak ada yang abadi di dunia ini kecuali perubahan….kalimat itu memang benar. Cintanya dan kesetiaannya yang semula kuprediksi akan tetap ada sepanjang usiaku ternyata menguap begitu saja. Pun janjinya untuk tetap bersamaku apapun yang terjadi ternyata mengalir bersama air mata yang ada. Semua angan dan asa terbang entah kemana. Hidupku semakin perih menerima kenyataan baru yang tak kalah menyakitkan dari kenyataan sebelumnya.
Monday, 5 March 2012
Coretan Seadanya
Mereka bilang Aku berbeda...Aku tak tau kenapa...
Padahal, Aku dilahirkan dengan cara yang sama...
(Ayah kenapa Aku berbeda)
Ketika Aku bicara tentang cinta, saat itulah Aku bicara tentang kehampaan. Bukan Aku tak punya rasa untuk menikmati setiap tetesan embun kalbu yang menyentuh hati, sekiranya hati ini selalu tertunduk malu untuk mengakui. Ya kawan Aku terlalu malu untuk mengakui tapi bukan berarti Aku harus membohongi setiap dentingan hati kala terusik oleh kasih dari Rabb yang Maha Lembut
Pandangan itu...
Pandangan yang sudah kerapkali menusukku...
Berkali-kali...
Bukan benci...
Tapi...
Pandangan yang seakan merendahkan, Apa Aku harus berburuk sangka? Tidak, karena dengan pandangan itu mereka bisa tertawa. Mereka tidak tertawa denganku tapi... Ah sudahlah mungkin mereka memang butuh hiburan
Apa yang lucu dariku?
Aku bukan pelawak, juga bukan penghibur
Apa Aku badut?
Tidak, Aku hanya setitik embun
Semilir bayu di semenanjung kalbu
Menunggu lentera yang kian redup
Aku rindu... dengan masa kecilku. Saat dimana diri tak berpikir bagaimana harus hidup sendiri di kemudian hari
Intermezzo...
Istri, masih adakah yang melihat fisik suaminya?
Istri, bagaimana jika sang suami tidak bisa mengendarai sepeda motor?
Istri, bagaimana jika sang suami hanya bisa mengendarai sepeda kayuh?
Istri, bagaimana jika sang suami hanya bisa memandangnya dari dekat?
Istri, bagaimana jika sang suami selalu memintanya membacakan koran dipagi hari untuknya?
Istri,bagaimana jika sang suami selalu menjadi bahan ‘hiburan’ orang lain?
Sanggupkah sang istri menjadi mata bagi sang nakhoda untuk mengayuh biduk yang berlayar?
Sanggupkah sang istri menjadi awak dari sang nakhoda dikala prahara badai mengguncang biduk kecil itu ?
Tapi...
Aku tak se-egois sang nakhoda itu kawan...
Aku tak akan rela jika sang istri berpontang-panting seperti itu
Aku tak akan rela jika sang istri menderita karenanya
Aku tak akan rela jika sang istri berpeluh karenanya
Tapi bagaimana?
Sang senja kini kian menampakkan sang malam
Siapa yang akan menjadi penerang?
Hidayah-Nya tentu akan selalu membuat hati sang embun selalu berpijar
Lalu?
Istri yang shalehahlah yang akan menjadi lentera di kala senja berlalu
Ya kawan, istri yang shalehah
Itulah jawabannya..
”Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (surga).”. - Q.S An Nur ayat 26
Dari Abu Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu ‘Anhuma bahwa Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,“Dunia ini adalah perhiasan/kesenangan dan sebaik-baik perhiasan/kesenangan dunia adalah wanita shalehah''(HR. Muslim: 3649,Nasai,Ibnu Majah)
Friday, 20 January 2012
PELANGI DI UJUNG SENJA
“ Napasku nyaris tenggelam hanyut bersama rintihan
Jauh di kedalaman tak ada yang mendengar
Apalagi tuk kujadikan sandaran
Semuanya nampak samar
Dan pelangiku mulai memudar
Biarkan kisah ini jadi catatan di atas pualam
Biarkan saja semua berkelakar
Acuhkan saja bila pilu kembal datang
Sebab kini aku punya pelita yang berpijar
Yang lafadzkan keyakinan bahwa aku tak sendirian
Kau adalah sahabat satu tujuan
Saling merasakan sisa cahaya di pelukan
Kaulah jawaban dari Tuhan
Atas pintaku dalam sujud dan tulisan
Kau beri nyawa pada mimpi yang mati suri
Kau ajakku tersenyum menatap cirus yang berhembus
Langitku tak selamanya berkabung
Mendung pun tak selamanya merundung
Kini ada angin yang bersenandung
Petik dawai sang syukur yang agung
Bersamamu kubernyanyi diatas rakit takdir yang kita dayung
Hingga pelangi di ujung senja tak lagi berkabung”
“Alhamdulillah? Ucapku ketika membaca puisi darinya ini , senang rasanya melihatnya bisa kembali percaya diri untuk menulis. Dialah kiki(nama disamarkan) seorang gadis yang lebih tua satu tahun dariku, awal bagaimana aku bisa berkenalan dengan dia adalah sesuatu yang unik(menurutku).
Awalnya aku iseng mengetik keyword “aku dan glaucoma” di google kemudian muncul banyak laman-laman yang kebanyakan berisi informasi tentang penyakit glaucoma padahal yang sebenarnya aku cari adalah cerita seseorang yang mengalaminya, bagaimana ia menjalani kehidupannya dan tentu untuk saling berbagi jika memungkinka untuk berkenalan dengan si empunya tulisan
Setelah beberapa page google terbuka(lebih dari 5 page kalau ga salah) kutemukan blog sederhana dengan nama yang unik(aneh). Akhirnya kutemukan apa yang aku cari , di blog itu hanya ada satu postingan yang berisi cerita si penulis dengan glaucoma. Untunglah di blog tersebut ada badge facebook si pemilik blog jadi bisa aku cari lebih lanjut siapa penulisnya tanpa buang banyak waktu langsung aku add
Sekian lama FB belum terkonfirm(hampir 6 bulanan) , sebenarnya aku sudah lupa kalaupernah mengirim permintaan pertemanan tapi karena tak sengaja aku klik sebuah bookmark page di browser membuatku ingat dan kemudian iseng aku message via FB. Beruntung beberapa saat kemudian dia membalas dengan respon yang lebih dari yang kukira. Kaget, senang dan bersyukur itulah yang tergambar dari replynya, but why?
Ternyata dia memang sudah lama mencari teman yang dianggapnya mempunyai sesuatu yang sama(glaucoma) , “untung aku baca messagemu sampai bawah” katanya, soalnya dia jarang membalas message
Mulai saat itu kita saling berbagi cerita. Dari ceritanya memang ia lebih awal terindikasi mengidap glaukoma sehingga keadaannya pun juga sudah memburuk ditambah biaya obat yang mahal membuatnya jarang control ke dokter, padahal obat itu wajib digunakan setiap harinya untuk mengurangi rasa sakit(bukan untuk menyembuhkan)
“ya begitulah sekarang aja aku sudah sulit melihat” keluhnya
Semenjak Kiki tak bisa lagi melihat ia kemudian menjadi anak rumahan dan berhenti kuliah karena biaya juga yang semakin mempersulitnya. Sehari hari ia habiskan dirumah dan termenung di kamarnya. Mengenai tulisan yang aku baca di blognya itu adalah tulisan terakhir sebelum ia tak bisa melihat dengan sempurna (tulisannya bagus menurutku)
Kiki pandai merangkai puisi dan mengemas sebuah cerita yang seharusnya pembaca sedih membacanya justru lewat gaya bahasanya yang khas mampu mengemas cerita yang mellow menjadi renyah dan gurih untuk dibaca sehingga pembaca tidak bosan (sekarang tulisannya bisa diakses di kartunet.com)
Semula ia sangat minder dan pemalu untuk menulis, semua tulisannya tersimpan rapi di buku-bukunya tanpa banyak orang yang membaca kecuali dirinya saja. Kemudian aku punya ide untuk mempublish tulisannya di Fbku. Setelah berjuang mendapat persetujuan darinya karena ia benar-benar tipe yang sulit terbuka akhirnya diizinkan
Beberapa tulisannya aku buat notes dan tentu saja tulisannya kurapikan karena masih berantakan karena salah ketik, mungkin saat menulis ini kondisi matanya sudah memburuk pikirku. Setelah memaksa beberapa teman untuk membaca cerita Kiki tak disangka feedback berupa coment membanjiri notesku banyak yang berkomentar positif bahkan ada yang sampai ingin menjadi teman Fbnya si kiki
“Nah sekarang gimana? Sudah kubilang tulisanmu keren” tanyaku
“Nggak, aku malu” tukasnya
Tak lupa aku tag seseorang yang akan membuatnya tak bisa mengelak pertanyaanku tadi, ia adalah Dimas Prasetyo(salah satu pendiri kartunet.com). Mas Dimas ini pun mengiyakan pernyataanku hehe trik ini ampuh sekali karena setelah itu Kiki menjadi semangat menulis cerita dan puisi yang sebelumnya ia simpan sendiri
Ada satu puisi yang membuatku tertunduk, puisi yang menggambarkan betapa laranya hati jika terus hidup dalam gelap tanpa teman dan menghabiskan sisa hidup di kubikel tembok kamar rasanya kerinduan akan sinar matahari begitu membuncah.
“kamu ga coba ke yayasan? Mitra netra atau sahabat mata gitu?” tanyaku
“nggak, nggak ada biaya lagian orang tua tidak mengizinkan” jawabnya
Kawan, jangan salah kita berkomunikasi via telepon karena Kiki tidak bisa membaca text sms kalau pun sms pasti minta dibacakan adik atau ibunya karena menurutku terlalu bahaya jika berbicara langsung(saat itu sudah sedikit mengenal Islam hehe) lantas kuberitahu untuk memakai teks reader di Hp, walaupun sulit menjelaskannya tapi akhirnya ia berhasil menggunakannya
Kemudian kukontak Mas Dimas yang dulu juga di mitra netra untuk menghandle Kiki agar bisa belajar disana. Karena tempatnya mas Dimas tak jauh dari UI (ia juga lulusan UI) beruntung ada Mega temanku yang kuliah disitu maka kukenalkan Mega dengan Mas Dimas, setelah mereka saling kenal kemudian aku kenalkan dengan Kiki untuk membantunya
“kalau mau ke mitra netra(di jakarta) di sana sudah ada mas Dimas dan temanku yang siap membantu segala sesuatunya” saranku
Setelah itu dikarenakan terlalu berbahaya jika masih berkomunikasi akhirnya kami jarang kontak
“ingat bro bukan mahram” kata temanku mengingatkan, memang sebaik apapun niat kita kalau caranya salah ya sama aja
Setelah menginjakkan kaki di Jogja aku sudah benar-benar me-lost kontakan, semoga dia baik-baik saja
Satu semester berlalu...............
Sampai saat ini tulisannya masih menghiasi kartunet.com
“sudah kau temukan tempatmu ki, disini kamu bisa berkarya” gumamku, sepertinya ia sudah mahir menggunakan jaws(program teks readerI komputer ”dan sepertinya mas Dimas menepati janjinya”
Dinding pengurung itu telah roboh, sekarang sinar pelangi senja tak segan menyapamu
Inilah salah satu puisinya yang pernah ku request
PELANGI DI UJUNG SENJA
Kelak waktu pasti kan tiba
Membawa dua kemungkinan ditangannya
Entah suka atau duka yang akan kuterima
Aku tak bisa menerka meski dalam tanya
Bukan tak bisa
Tapi ku takut duka yang kan terbaca
Suka atau duka kah yang akan terasa?
Tak ada yang bisa menjawabnya
Yang jelas, gelaplah yang nyata disana
Cahaya tak lagi berkata meski fajar menyapa
Tak apa kawan
Memang beginilah adanya
Menggugat pun pada siapa?
Terisak pun tak ada guna
Marah pun tak akan mengubah segalanya
Karena ku yakin inilah yang terindah dari-Nya
Bukankah Tuhan menciptakan semua tanpa sia-sia?
Tak perlu takut dengan duka
Karena suka kan temaniku warnai dunia
Meski senja telah tiba
Tuesday, 10 January 2012
Obrolan Dengan Bapak J

Siang ini setelah mengumpulkan tugas take home mata kuliah agama Aku berencana ke maskam karena waktu sudah hampir memasuki dzuhur, Udara begitu terik hari ini dengan sedikt ditambah keluhan karena melihat nilai UTS yang kurang maksimal Aku berjalan dengan malas sekali
Alhamdulillah pas sampai di maskam tepat dikumandangkan adzan dengan agak terburu-buru berjalan ke shaf pertama sebelah kanan. Kemudian datang seorang kakek dengan baju batik sambil membawa tongkat berdiri di sebelahku, kupikir kakek itu sudah tidak mampu menopang tubuhnya seperti kebanyakan kakek kakek seusianya tapi “mas ini masjidnya kan?” tanya beliau, aku heran sekali maskam segede ini kan sudah jelas sekali lalu kuperhatikan tongkat itu sudah ditekuk seperti tongkat portable. Aku baru sadar kalau tongkat putih itu adalah tanda bagi orang yang tunanetra
Aku tidak berbicara sedikit pun dengan kakek itu karena masih terkejut, heran dicampur rasa kagum , banyak pertanyaan yang seketika menyergapku “bagaimana bisa ini itu???”
Selesai shalat aku beranikan untuk ngobrol dengan kakek itu, dengan sedikit perkenalan aku membuka pembicaraan. Bapak J(di inisialkan karena menyangkut privasi) begitulah beliau memperkenalkan diri, beliau ternyata tinggal di Bantul. masya Allah dari Bantul sampai ke Maskam UGM beliau naik bus umum “ah gampang sudah ada caranya kok dengan pendengaran dan perasaan” Begitulah beliau menceritakannya dengan antusias sambil menepuk lenganku.
Hebatnya lagi bapak J ini tidak mau mengalah dengan kondisinya yang tunanetra. hal itu ia buktikan dengan membuka usaha panti pijat di kampungnya sana
“wah bleh minta dipijat nih hehe?” tapi aku sadar kalau tidak bawa uang hehe
Beliau juga berhasil mengantarkan anaknya bekerja di Malaysia , awalnya kupikir dia pasti seorang TKW “ kerja di bidang marketing, kalau mau aku jadikan dia buat kamu” canda beliau hehe bapak bisa aja neeh jadi galau nih Aku
Aku juga sedikit curhat dengan beliau tentang masalahku, dengan semangat beliau memotivasiku dengan memintaku untuk selalu berdoa dan shalat meminta kepada Allah, akhirnya kami saling mendoakan.
Aku masih bingung kenapa beliau repot-repot sampai ke Sleman, subhanallah beliau hanya menjawab untuk menebarkan doa pada orang yang membutuhkan begitulah katanya. Jangan salah ia anti meminta-minta(ngemis) , ditengah obrolan ada orang yang memberinya uang lantas aku tanya “rasanya gimana pak?” beliau menjawab kalau ia merasa biasa saja karena kita pun tak tau darimana Allah memberikan rezeki dan bapak juga tidak berniat untuk meminta-minta lanjut beliau
Setelah obrolan itu kita saling berpamitan. Semangatku yang tadi sempat down kembali terisi dengan energi baru, lihatlah kawan, seorang bapak yang sudah ditinggal istrinya dan dua anaknya ke kehidupan yang abadi dan hanya ditemani satu anak yang sekarang sudah jauh di Malaysiabeliau tetap semangat dalam menatap hidupnya. Lihatlah kawan betapa kekurangan bukanlah untuk diratapi tapi untuk dihadapi .Lihatlah kawan orang yang lebih membutuhkan doa kita justru dia melelahkan diri untuk mendoakan orang lain
Jadi masihkah kita mengeluh? Nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan???
Sunday, 8 January 2012
Indahnya Sudut Kota Jogja (Pogung KIdul)
Langkahku berhenti sejenak tepat dibelakang bangunan dua lantai ini dan inilah yang aku lihat
Ternyata ada kolam ternak ikan atau empang yang cukup gede seketika aku hanya bisa menggumam “lhoh ada tho yang kayak gini disini!@#!” . Sapuan angin sore ini begitu sejuk, awan mendung masih menggantung enggan menurunkan hujannya perlahan aku berjalan menyusuri pematang sawah menuju gubuk tempat petani biasa istirahat disitu
Sambil duduk duduk di gubuk itu kurasakan rasa penatku hilang, pusing karena terlalu terfokus pada ujian besok seakan ternetralisir subhanallah .. inilah pemandangan yang cukup indah , gunung merapi enggan menampakkan dirinya karena tertutupi mendung yang tebal ahh mungkin lain kali saat cuaca cerah akan lebih indah lagi
Dan inilah MSG(Masjid Siswa Graha) yang letaknya tepat ditengah jalan raya di utara Fak Tekhnik, setiap ke masjid ini kita selalu melewati hamparan sawah juga
Inilah wisma MTI tampak dari belakang hehe lucu juga ya bangunannya
Pemandangannya indah dan aku sadar kalau tak mungkin aku selamanya di kota pelajar yang penuh kenangan ini, sebelum aku meninggalkan kota ini aku harus bisa mendulang ilmu untuk kubawa di kehidupanku kelak dan secuil mozaik ini tetap akan menjadi bagian tersendiri di kenanganku
Friday, 6 January 2012
Ayo Belajar!!!

Hari-hari ulama begitulah kami menyebutnya. Hari-hari menjelang UAS memang saat-saat yang membuat kami sibuk dengan diktat-diktat(fotokopian tentunya) dan belajar semalaman suntuk seperti yang aku alami sekarang
Kadang aku berpikir heran kenapa ada teman yang aku lihat celelekan (sembrono dan cuek) ia sukses dalam setiap ujian, tidak satu atau dua orang yang aku temui, begitu banyak orang yang kelihatan santai (sangat santai) secara dzahir tapi entah kenapa ia selalu melihat kertas ujiannya dengan tanpa ekspresi padahal nilai yang ia dapat begitu bagus “halah biasa wae” begitulah jawabnya setiap aku bertanya bagaimana bisa dia mendapatkan itu
Apakah ada yang salah dengan metode belajarku?ah aku rasa tidak karena setiap orang mempunyai caranya masing-masing. Aku biasa belajar jika sedang mood dengan pelajaran kuliah selebihnya mempelajari hal lain yang lebih aku sukai untuk menghilangkan kepenatan dari teori-teori dengan objek kajian yang sangat abstrak yaitu sastra, jujur saja aku kurang tertarik dengan pelajaran yang identik dengan filsafat ini karena selalu bersinggungan dengan pemahamanku
Hmm mungkin benar kata pepatah jawa witing tresno jalaran soko kulino yaitu kita akan menyukai sesuatu jika kita sudah terbiasa dengannya dan dengan berawal dari suka tentu kita akan tertarik untuk lebih mengetahui lebih dalam
Aku kagum melihat teman kamar sebelah di wisma yang menurut pengakuannya ia tidak menyukai matematika tapi berhubung ia diamanati orang tuanya kuliah di UGM tentu mau tidak mau harus belajar dan belajar DAN ANEHNYA setiap aku berkunjung ke kamarnya (sering) ia hampir tidak pernah menyentuh itu buku buku kalkulus tapi justru ia sibuk dengan kitab kitab agama, mendengar ceramah kajian dari HP bahkan tak jarang ia kutemui sedang menghafal Al Qur'an
Tapi kenapa nilainya bisa melebihi sebagian teman-temannya yang lain? Selidik punya selidik ternyata dia memang mempunyai waktu waktu khusus untuk belajar matematika, masyaAllah jika seperti itu terus hidupnya mungkin suatu hari ia akan menjadi seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
kemudian ada teman yang lebih hebat lagi, jarang sekali aku menemui dia diluar karena saking betahnya ia dikamar, apa yang ia lakukan? Karena penasaran, suatu hari aku sengaja memanggilnya keluar untuk sekedar ngobrol basa basi , sembari ngobrol aku tengok kamarnya, masyaAllah tumpukan buku-buku tebal berserakan disana sini, baru aku tahu selama ini ia begitu giat belajar TAPI ia terlihat santai dan tenang saat diluar seakan tidak ada sesuatu yang baru saja ia kerjakan dengan sungguh-sungguh
Tak hanya itu saja , masih banyak teman-teman wisma yang membuatku tak berhenti mengernyitkan dahi kagum dan minder rasanya menjadi satu kesatuan yang kini merasukiku
Semoga lekas kutemukan passion belajarku
Thursday, 29 December 2011
Mimpi Itu!!!

Aku mempunyai seorang teman, dia baru kukenal sehari setelah pengumuman SNMPTN kemarin. Dia adalah Hanif seseorang yang awalnya aku kira sombong karena ia begitu semangat membicarakan tentang prestasi dari dunia tulis-menulisnya.
Ia bercerita pernah mendapatkan juara dua lomba karya ilmiah tingkat provinsi dan banyak karyanya yang telah di publish di berbagai media. “wow” begitulah pikirku saat itu. Sungguh hebat sekali orang ini. Apakah aku iri? Iya aku iri karena di pikiranku ia adalah anak yang sempurna dengan segala kelebihannya sehingga mampu berprestasi
Tapi angan-anganku itu runtuh seketika saat kami saling bertemu untuk pertama kalinya, dia jauh dari apa yang awalnya aku bayangkan bahwa ia anak yang sempurna dengan segala kelebihannya. “subhanallah!” ternyata dia seorang tunarungu
Awalnya memang aku agak kesulitan berkomunikasi dengan dia karena Hanif tidak memakai alat bantu , lalu bagaimana ia berkomunikasi? Dia berkomunikasi dengan dua metode yaitu dengan membaca gerak bibir lawan bicara dan menggunakan tulisan. Saat berkenalan denganku ia menggunakan metode tulisan, memang ini akan terlihat mudah untuk sebagian orang yang menjadi lawan bicaranya tapi beda denganku yang sulit membaca tulisan berukuran normal, jadilah awal perkenalan kita di moderatori oleh Budi. Budi dengan sabar membacakan yang ditulis Hanif dan menuliskan apa yang aku katakan hehe
Saya ingin menjadi seorang editor dan penulis di perusahaan buku!” itulah yang ia ucapkan saat sesi tanya jawab di acara mentoring mahasiswa baru
Saya ingin mendirikan rumah untuk anak anak difabel dimana di rumah itu mereka bisa berkarya” begitulah impiannya saat ia disuruh menceritakan mimpinya pada saat kuliah bahasa inggris
Awalnya aku ingin mengajak Hanif untuk bekerjasama, karena memang mimpi kita tak jauh beda. Aku ingin mendirikan sebuah panti asuhan dan yayasan untuk difabel, tapi sepertinya ia snagat sibuk.
Kami sempat mendaftar UKM Balirung untuk melamar posisi sebagai direksi, Hanif diterima tetapi aku justru mengundurkan diri karena memang kesibukan di wisma dan ma'had sendiri cukup padat. Walaupun kita mempunyai kesibukan yang berbeda tapi tak membuat misi dan mimpi kita berubah karena setiap orang memiliki jalannya sendiri
Salah satu awak forum lingkar pena ini lagi-lagi membuatku terheran-heran karena akhir-akhir ini ia berencana membuat sebuah forum komunikasi difabel tingkat universitas. Memang forum ini belum sepenuhnya didirikan karena masalah data mahasiswa difabel yang sulit didapat
Memang aku melihat orang-orang dengan keterbatasan fisik selalu mendapat gate dari orang lain, dalam artian mereka dekat karena kasihan dengan si difabel. Memang perhatian dan batuan mereka sangat kita butuhkan tapi bantuan yang tuluslah yang kami harapkan, bukan berarti kami ini tidak mau berusaha sendiri
Semoga forum ini segera terbentuk sehingga hak-hak para difabel mampu disuarakan agar mereka tidak merasa disisihkan
Tuesday, 13 December 2011
Kemana Saja Masa Mudamu Kau Habiskan????

" Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk ke-benaran dan saling menasihati untuk kesabaran (QS 103 : 1-3 )
Sore hari ini terasa agak mesra karena gerimis di kota ilmu begitu sejuk. Sepulang dari kampus (bukan untuk kuliah tapi … bisa kalian baca disini) badan terasa capek tapi tugas ternyata masih menumpuk “Zan ngambil box kertas untuk buletin?” komando mas Ramdan , dengan agak malas aku boncengan dengan Mahe untuk ngambil plus ngantar kertas ke percetakan fiuuhh sampai di kost “Zan laporan keuangan kemarin sudah kan? Buruan di kirim” tanya bang Adul “iya tapi ana belum makan!!” hmm jadi ingat sesuatu “itulah okenya bodrex bisa diminum kapan saja”
Memang benar burjo is the spirits of anak kost, dengan kekuatan sepiring nasi sarden aku siap bekerja siang malam (kayak iklan apa hayo hehe)
Adzan maghrib sudah dikumandangkan mas takmir dari distrik MSG. Waktunya kajian MSM ahkamul masjid di masjid al mukmin , sebenarnya aku baru pertama kali ikut kajian rutin ini coz memang ane bukan santri MSM :P hehe daripada nganggur di kostan mending manfaatkan waktu, jadi teringat kata kata mas Ferdy tadi pagi “kenapa Allah bersumpah demi waktu?” karena memang begitu mulianya waktu yang diberikan Allah
Materi hari ini tentang larangan membangun masjid dengan berlebihan karena bisa jadi merupakan bentu tasyabuh dengan Yahudi dan Nasoro, sehingga kita di perintahkan untuk membangun masjid dengan sederhana
dari Ibnu Abbas bahwasanya Rasulullah bersabda “aku tidak diperintahkan untuk meninggikan masjid”
Dan tidak akan tegak hari kiamat sampai seseorang saling membanggakan masjidnya.
Ditengah kajian Aku yang sedikit mengantuk karena efek dari burjo tadi iseng melirik ke belakang dan … subhanallah ternyata yang datang cukup banyak juga dan yang paling membuatku heran adalah mereka kebanyakan anak-anak SMA , dari seragamnya yang masih melekat lusuh tergambar guratan wajah-wajah yang begitu semangat akan menuntut ilmu seakan semangat akan kehausan mereka akan ilmu mampu mengalahkan dinginnya hujan gerimis di luar
Aku berpikir sejenak, bagaimana mungkin mereka bisa semangat seperti itu dan mereka ternyata tak sekali atau dua kali menghadiri majlis ilmu di sekitaran UGM , sering aku melihat mereka tentu saja masih dengan seragam SMAnya. Dada rasanya sesak jika membandingkan kondisi mereka dengan kondisiku waktu SMA dahulu yang sangat bertolak belakang, mereka begitu tekun menuntut ilmu sedangkan aku?? apa itu majlis ilmu saja masih terdengar asing ditelinga
Ya akhi Menuntut ilmu itu pahalanya begitu besar:
“Barangsiapa berjalan di satu jalan dalam rangka menuntut ilmu, maka Allah mudahkan jalan menuju surga. Dan sesungguhnya malaikat meletakkan sayap-sayapnya bagi penuntut ilmu tanda ridha dengan yang dia perbuat. (Dari hadits yang panjang riwayat Muslim)
“Barangsiapa keluar dalam rangka thalabul ilmu (mencari ilmu), maka dia berada dalam sabilillah hingga kembali.” (HR. Tirmidzi, hasan)
“Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR.Muslim)
Memang akan selalu ada rasa penyesalan jika kita tidak pandai memanfaatkan waktu, tapi bukan berarti kita harus pesimis karena apa?karena kita masih diberi kesempatan untuk bersegera menuju jalan ad dienul haq sungguh beitu mahalnya hidayah Allah , ya akhi ingatlah sabda Rasulullah “Barangsiapa yang Allah kehendaki padanya kebaikan maka Allah akan pahamkan dia dalam (masalah) dien (agama).” (HR.Bukhari)
Aku teringat motivasi dari pak Rajendra waktu awal awal di Jogja “kalian dalah mujahid-mujahid muda” beliau menepuk pundakku sambil tersenyum . Subhanallah alangkah indahnya seorang pemuda yang hidup dalam ketaatan pada Allah, ia akan mendapatkan naungan di hari yang tiada naungan selain dari-Nya
wasiat ustadz Armen “alangkah hebatnya sebuah negeri yang pemudanya tumbuh dalam ketaatan, seorang mahasiswa menghafal al qur'an , menghafal hadits arba'in subhanallah”
Aku pun di Ciduk Mobil Patroli Kampus

Hey blog , saat menulis ini aku baru saja di ciduk mobil patroli UGM . Tapi tunggu dulu jangan dikirain aku ini tertuduh jadi tersangka teroris yang berencana meledakkan portal gate UGM itu hehe
honestly , aku sering kali melihat para gepeng(gelandangan dan pengemis), PKL, Pengamen atau orang yang diangkut ke mobil patroli karena meresahkan kehidupan berbangsa dan bernegara. Tentu mereka di angkut bukan tanpa alasan seperti halnya aku yang kini sedang berada diantara kerumunan satpam-satpam
Kebetulan hari ini kuliah libur karena dosennya rapat BTW kalo dipikir kok kayak anak sekolahan ya , saat ditanya Ibu “kenapa pulang pagi nak?” jawabannya kalau “ada yang meninggal” pasti “gurunya rapat buk” ah lupakan bagian yang tidak penting ini, lepas dari FIB aku dan teman-teman Sasindo pergi ke pelataran pedestrian GSP bukan untuk demo tapi untuk latihan pentas etnika yang kemarin dapat komen pedas dari bang kobe si gondrong saat gladi bersih
Semuanya pada latihan dan seperti biasanya aku hanya sebagai simpatisan alias penonton hehe . “zan beli air ya buat teman-teman” pinta Dwi “sekalian permen” timpal bagus. Dengan senang hati (karena ga ada kerjaan) aku iyakan saja, dengan semangat 45x2=90 aku meluncur ke kopma.
Kukayuh sepeda dengan kecepatan rata-rata air sambil memicingkan mata karena silau men... melewati boulevard semuanya masih seperti biasanya sampai terlihat pintu portal gerbang tiba-tiba perasaan jadi ga enak rasanya seperti ada yang mengganjal di perut , bukan karena apa tapi memang aku belum makan. Langit berubah mendung, burung berhenti berkicau angin bertiup pelan, bumi gonjang ganjing gunung gunung terlempar seperti anai anai tiba-tiba bruuukk...............!
yes. Aku jatuh dengan aduhai setelah mengumpulkan nyawa yang berserakan aku mencoba melihat ke belakang ternyata aku tadi menabrak portal hehe maklum aku ga lihat kalau disitu ada portal. Yang aku herankan adalah mas-mas satpam itu pada ketawa terbahak-bahak dan ada juga mas satpam yang melihat dengan iba, bukan ke arahku tapi ke arah portal gate yang terlihat agak bengkok, hanya satu orang yang menghampiriku dan menanyakan “gimana mas ga apa apa to?” dia adalah kakektuayangenerjik (begitulah aku menyebutnya) tapi aku acuh saja karena sudah tidak fokus aku berpikir kakek itu hanya akan meramaikan parade guyonan ini saja
Singkat cerita mas satpam menahan KTMku , dengan pasrah aku serahkan barang berharga itu “nanti diambil di kantor ya” ah ternyata semudah itu prosesnya, dengan tenang aku melanjutkan perjalanan ke kopma. Sampai di kopma ternyata mas satpam tadi mengejarku dengan megapro birunya “mas ikut ke kantor sekarang ya” tanpa curiga aku pun mengikuti doi
sampai di Kantor satpam (di selatan maskam) aku disuruh nunggu seseorang yang mengurusi bagian peralatan. Dengan sabar aku menunggu yang bersangkutan beliau adalah seorang ibu dan bapak yang tidak aku tahu namanya tapi dari apa yang dibicarakannya mengindikasikan akan ada sesuatu yang berhubungan dengan penggantian dan itu artinya harus berhubungan dengan uang dan uangnya pun tidak sedikit karena portalnya dibenderol dengan harga 2,5 juta (hasil menyimak obrolon mereka yang jelas jelas menyinggungku) dengan gundah dan istighfar yang tak hentinya membasahi bibir (ciieee....) aku sudah berspekulasi seandainya disuruh mengganti akan aku jual HP dan Sepedaku itu tentu dengan tanpa izin orang tua. Pertolongan Allah itu dekat kawan
Bagian peralatan tidak mau bertanggung jawab (padahal udah nunggu sampai lumutan) akhirnya kasus diserahkan ke kantor satpam utama, oke aku menunggu lagi disini. Di ruang 3 x4 meter aku duduk bersama satpam-satpam dengan berbagai tipe, ada yang sedari tadi tertawa terbahak bahak melihatku ,ada yang sok sibuk dengan HT ada yang sibuk membahas utang dan gaji golongan 2A yang tak kunjung naik. “kenapa kok bisa nabrak mas kan ada tandanya?” tanya mas satpam 1 “nggak lihat pak” jawabku dengan sok cool padahal dari tadi pusing mikir penggantian biaya itu. Pertolongan Allah itu dekat pada hamba-Nya kawan
ternyata ini kantor juga tidak bisa mengurusi kasusku akhirnya mas satpam 2 mengusulkan untuk merujuknya pada pak mustofa (siapakah dia???)jeng jeng....
Mas kita ke pak mustofa ya sekarang, sepedaya diangkut ke mobil aja. Nah inilah pertama kalinya aku mera bak seperti tersangka yang siap menghadapi pengadilan tinggi di rektorat. Untuk sampai ke rektorat ternyata harus melewati kerumunan anak-anak sasindo yang sedang berlatih tadi wuiihhh asiik bisa pamer nih Fauzan pergi bawa sepeda pulang bawa mobil 'patroli'' dengan diapit dua mas satpam aku ditanya “ kok bisa nabrak mas?” fiuuh ya sudahlah jujur saja apa adanya ?saya beneran ga lihat pak” desakku “kenapa?”, “saya tunanetra sebelah + glaukoma cogenital” males juga menjelaskan hal ini tapi mau bagaimana lagi. Pertolongan Allah itu dekat pada hamba-Nya kawan
sampai di rektorat aku merasa sedikit tenang karena rasa bangganya bisa masuk ke gedung yang tiap hari aku lalui ini. Istighfar.... sebentar lagi ketemu pimpinan keamanan nuih... cemungudh eaa
saat menaiki tangga ke lantai dua mas satpam berlari mengejar dan berbincang dengan teman satpamnya yang ada disampingku “ada saksi kunci, ada saksi untuk pembelaan masnya ini” aku tak begitu menghiraukannya coz bagaimanapun juga kalau udah UGM pasti ujung ujungnya mesti membicarakan masalah uang. Pertolongan Allah itu dekat pada hamba-Nya kawan
yup sampailah aku di ruang pengadilan (lebay) . Aku duduk disamping pak mustofa dan dua mas satpam tadi. Pak mus langsung menjudge dengan membicarakan soal peraturan jika ada aset kampus yang dirusak pihak intern atau ekstern maka ia wajib mengganti (nah loe Zan...2.5 juta makan apa kamu) . “tapi pak masnya ini punya sedikit hambatan fisik yang bla bla bla” mas satpam 1 membela “iya tapi itu sebuah konsekuensinya”. Mas satpam 2 mempersilahkan seorang kakek kakek yang tidak asing bagiku oh noo... itu kakek yang tadi menolongku. Pertolongan Allah itu dekat pada hamba-Nya kawan
Jadi begini mas, lanjut pak mustofa, itu portal gate namanya **** (sensor) kami beli dari Itali yang kualitasnya bisa mas cari di internet dan itu bisa ribuan kali buka tutup, untuk harga ada di kisaran 3.5 juta WHATS.. SAYA BUKAN MAU BELI LAGIAN KOST SAYA TIDAK MEMBERLAKUKAN KIK . MasyaAllah kok jadi 3.5 juta mahal bagey untulk satu portal itu. Pertolongan Allah itu dekat pada hamba-Nya kawan
Kakek tadi langsung angkat bicara , “masnya ini tidak sepenuhnya salah karena beberapa meter sebelum masnya ini keluar, portal masih terbuka dan saat masnya pas di tengah tiba-tiba portalnya ditutup entah itu ada faktor kesengajaan atau tidak tapi kenapa yang disitu pada ketawa dan bla bla bla” beliau menjelaskan befitu apik dan hebatnya kakek tadi juga tau kondisi fisikku. Pertolongan Allah itu dekat pada hamba-Nya kawan
Ya sudah berhubung dengan alasan kemanusiaan maka mas hanya saya nasihati untuk lebih berhati hati kata pak mustofa, kakek tadi juga mengatakan hal yang sama dan mas satpam hanya tersenyum. Alhamdulillah KTMku kembali tanpa harus keluar uang 3.5 juta sungguh pertolongan Allah itu dekat pada hamba-Nya
Itulah kawan , Allah menegurku sekali lagi untuk tidak menganggap remeh dan suudzon pada orang lain yaitu pada satpam dan kakek tadi
Astaghfirullah sampai di kost aku baru ingat ada amanah untuk membelikan air dan permen untuk teman-teman.................................bingung









